ELANG
Jam menunjukkan pukul 5
pagi, mentari mulai beranjak dari ufuk timur memberikan senyumannya untuk menyapa semua mahluk hidup di muka bumi ini
dan membangunkan orang-orang dari dunia mimpi. Ayam-ayam saling bernyanyi
bersahutan menambah kekhasan suasana di pagi ini. Harumnya embun pagi
memberikan semangat baru di hari ini. Sejenak kupandang langit yang mulai
menguning dari jendela kamarku, langit terlihat cerah dan tampak bersahaja. Aku
harap hari ini bisa sesahaja langit pagi.
Kulihat
bunga warna-warni yang terlihat indah dari atas sini. Itulah yang membuatku
merasa betah tinggal di kota ini. Aku tinggal seorang diri di kota Bandung,
jauh dari orang tua dan sanak saudara di Jakarta. Teman-temanku biasa
memanggilku Agan. Walau sebenarnya namaku jauh dari kata itu. Aku terlahir
dengan nama Elang Phalanges. Ibuku memberi nama seperti itu karena berharap aku
akan menjadi anak yang kuat seperti cengkraman elang. Ya, tentu saja. Semua
orang tua jelas mengharapkan seorang anak laki-laki yang kuat.
Terlepas dari semua
itu. Aku akan menceritakan sedikit tentang kehidupanku di masa-masa peralihanku
dari remaja menuju dewasa ini. Masa-masa yang banyak dibilang orang adalah
masa-masa yang paling menyenangkan. Masa-masa yang saat ini sedang kujalani
dengan penuh suka dan duka. Ku awali masa ini sebagai mahasiswa baru di salah
satu Universitas di Bandung. Seperti mahasiswa biasanya sebelum aku memulai
pendidikan di unversitas pilihanku, aku harus menjalankan Ospek yang tentunya
di bimbing oleh senior-senior yang menyebalkan.